Sabtu, 31 Oktober 2009

ILMU PENGETAHUAN


A. Kesempurnaan Ilmu Allah
1. Surat Al-Kahfi : 109

a. Arti Kata
= lautan
= tinta
= habis
= walaupun Kami datangkan
= tambahan, yang seperti itu
b. Terjemah
Katakanlah “Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, mesikupun kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)”.

c. Penjelasan
Dalam satu riwayat disebutkan bahwa turunnya ayat ini sehubungan ada kritikan orang-orang Yahudi yang mengatakan bahwa di dalam Al-Qur’an itu ada kontradiksi dalam beberapa ayatnya. Mereka menunjuk ayat :

Artinya :
“Barang siapa yang diberi hikmah, maka berarti orang itu telah diberi kebaikan yang banyak sekali.” (Al-Baqarah 269)

Kemudian mereka menunjuk ayat lain :

Artinya :
“Kami hanya beri ilmu sedikit sekali”. (Al-Isra 85)

Menurut orang-orang Yahudi, kedua ayat di atas saling bertentangan. Yang satu mengatakan diberi ilmu yang banyak sedangkan yang lain menyebut hanya sedikit saja.
Maka turunlah ayat 109 surat Al-Kahfi tersebut sebagai jawaban atas kritik mereka. Ayat ini menjelaskan bahwa sekiranya lautan dijadikan tinta untuk mencatat kalimat-kalimat (tanda-tanda) kebesaran dan kekuasaan Tuhan dan ilmu-Nya, maka lautan itu akan habis dan kering sebelum kalimat-kalimat Tuhan itu habis dicatat, meskipun air laut itu ditambahkan sebanyak itu pula, karena luatan, betapapun banyak airnya tetap terbatas, sedangkan ilmu dan ni’mat Allah tak terbatas.
Dalam kaitannya dengan penjelasan di atas, Allah berfiman dalam surat Luqman : 27 sebagai berikut:

Artinya :
“Dan seandainya pohon-pohon yang ada di bumi menjadi penda dan laut (menjadi tinta), ditambah kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan kalimat Allah) Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Arti “kalimat Allah” dalam ayat ini adalah banyak sekali, termasuk di dalamnya kekuasaan Allah terhadap hakekat segala sesuatu, ketentuan dan firman-Nya, ilmu dan segala macam ciptaanNya. Allah menciptakan langit dan bumi dan segala macam yang terdapat di dalamnya, sejak dan yang paling besar sampai kepada yang paling kecil dan halus, binatang yang paling besar hingga bakteri-bakteri yang sangat halus, tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam, binatang-binatang dengan sifat-sifat yang melekat padanya yang ada di cakrawala dengan segala macam aturan-aturan dan masih makhluk-makhluk Allah lainnya yang tak terhitung jumlah, semua termasuk dalam kalimat Allah SWT.

d. Korelasi Ayat dengan Ilmu Pengetahuan
Jadi, betapa banyak tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah dan betapa luas dan tanpa batas pengetahuan-Nya. Sekalipun semua pepohonan dijadikan pena dan semua air laut dijadikan tinta serta seluruh kemampuan dikerahkan untuk itu niscaya ilmu dan kalimat Allah tidak akan habis.

2. Surat : 1 – 2

a. Arti Kata
= segala puji
= Maha Bijaksana
= Maha Mengetahui
= masuk
= keluar
= turun
= naik

b. Terjemah
1. Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang di langit dan apa yang di bumi dan bagi-Nya (pula) segala puji di akhirat. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.
2. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi, apa yang keluar darinya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dialah Yang Maha Penyayang lagi Maha Pengampun.

c. Penjelasan
Dalam ayat 1 di atas Allah SWT menjelaskan bahwa Dialah yang berhak menerima segala pujian karena Dialah yang menciptakan semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi. Dialah pemiliknya yang sebenarnya, tak ada seorang pun bersekutu dengan Dia dalam menciptakan dan memilikinya.
Dialah yang mengatur dan mengurusnya serta melimpahkan karunia-Nya agar semuanya berjalan dengan tertib dan teratur. Oleh sebab itu, tak ada yang patut dipersembahkan pujian kecuali kepada Allah SWT, tak ada yang patut disembah dan dipanjatkan doa kecuali kepada Dia, walaupun Dia sendiri tidak memerlukan pujian dan hamba dan makhlukNya. Sekiranya tidak ada yang menyembah dan memujiNya dan semua makhluk-Nya kafir, maka Dia tidak akan rugi. Kekuasaan dan Kebesaran-Nya tetap sempurna, tidak kurang sedikit pun. Sebaliknya, kekafiran hanya akan menimbulkan kerugian bagi mereka sendiri, sebab dengan kekafiran mereka itu Allah SWT tidak akan menambah nikmat dan rahmatnya-Nya kepada mereka, melainkan kemurkaan dan sika-Nya lah yang akan menimpa mereka. Allah Maha kaya dan terpuji, tidak memerlukan ucapan syukur manusia dan tidak membutuhkan amalan kebajikan mereka, kehendak dan kekuasaan-Nya mesti terlaksana sekalipun orang-orang kafir menghalanginya.
Dalam surat Ibrahim ayat 8 Allah SWT, berfirman :



Artinya :
“Jika kami dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allag) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji”.

Guna menginsafkan manusia yang mempunyai akal agar berfikir, Allah mengingatkan bahwa semua makhluk-Nya di langit dan di bumi bertasbih memuji-Nya, termasuk burung-burung yang terbang di udara, Allah berfirman:

Artinya
“Tidaklah kamu tahu bahwasanya apa-apa yang ada di langit dan di bumi (juga) burung, mengembangkan sayapnya bertasbih kepada Allah. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbinya, dan Allag Maha Mengetahu apa yang mereke kerjakan”.

Selanjutnya melalui ayat di atas, Allah menegaskan bahwa Dialah yang berhak dipuji di akherat nanti karena Dialah yang mempunyai kekuasaan di sana. Dia bertindak dengan adil dan bijaksana dalam mempertimbangkan dan membalas amal hambaNya. Tidak ada seorang pun yang dirugikan dalam perhitungan amal perbuatannya, yang baik dibalas dengan kebaikan dan yang jahat akan dibalas dengan siksa yang setimpal; bahkan dengan karunia dan rahmat-Nya satu amal kebaikan dibalas dengan berlipat ganda. Dia pula yang Maha Bijaksana, berbuat dan bertindak, mengatur dan mengendalikan urusan dunia dan akherat serta alam seluruhnya dengan adil dan bijaksana.
Pada ayat 2 (dua) Allah SWT menjelaskan bagaimana luas dan dalam ilmu-Nya. Dia mengetahui semua yang masuk ke dalam bumi, semua yang keluar dan padanya, semua yang turun dan langit dan semua yang naik ke atasnya. Dengan kata-kata yang ringkas dan pendek ini dapat menggambarkan bagaimana luasnya ilmu Allah SWT.
Andaikata semua penghutii bumi ini menghabiskan waktunya untuk mengetahui apa yang terjadi di langit dan di bumi dalam satu saat saja, niscaya mereka tidak akan sanggup mencatatnya untuk statistiknya. Betapa banyaknya bibit dan benih tumbuh-tumbuhan yang masuk dan tersembunyi di dalam tanah? Betapa banyaknya bahan-bahan tambang yang selalu dalam proses pertumbuhan seperti emas, perak, tambang minyak, gas dan lain sebagainya.
Betapa pula banyaknya sesuatu yang keluar dari bumi seperti tanaman yang bermunculan, mata air yang memancar, gas yang naik menjulang, binatang dan serangga yang ingin menikmati cahaya matahari dan alam bebas dan lain sebagainya. Betapa banyaknya yang turun dan langit, seperti hujan yang tak dapat diperkirakan berapa kadarnya yang merupakan rahmat dan Allah bagi hambaNya. Cahaya yang memancar dengan kerasnya seperti cahaya matahari, cahaya yang memancar dengan terang seperti cahaya bulan. Kemudian betapa pula banyaknya sesuatu yang naik ke langit seperti uap dan sungai dan laut, molekul-molekul gas dan tumbuh-tumbuhan, manusia dan binatang dan bumi sendiri. Betapa banyaknya roh orang yang meninggal dan Malaikat yang naik ke langit patuh dan taat melaksanakan perintah Tuhannya. Semua ini tidak akan dapat dicatat oleh manusia apalagi untuk mengetahui satu persatu. Akan tetapi Allah Maha Mengetahui, tak ada satu pun yang tersembunyi bagi-Nya, semuanya telah tercakup dalam ilmu-Nya. sesuai dengan firman-Nya berikut ini :

Artinya :
“Dan kamu tidak diberi pengetahuan melainkan sedikit”

d. Korelasi Ayat dengan Ilmu Pengetahuan
Demikianlah luasnya ilmu Allah, rahmat dan karunia-Nya yang ada di bumi dan di langit yang semuanya itu diciptakan untuk kepentingan manusia. Dia Maha Penyayang memberikan karunia yang tak terhingga kepada makhluk-Nya dan Maha Pengampun terhadap orang yang bersalah yang mengakui kesalahannya dan bertaubat kepada-Nya.

B. Kewajiban
1. Surat At-Taubat : 122


a. Arti Kata
= hendaklah pergi
= semuanyanya
= golongan
= mereka memperdalam pengetahuan
= mereka menjaga diri

b. Terjemah
Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dan tiap-tiap golongan diantar mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.

c. Penjelasan
Kalau dalam sebelumnya dijelaskan hukum-hukum berjihad, maka dalam ayat 122 ini Allah menerangkan kewajiban menuntut ilmu pengetahuan serta mendalami ilmu-ilmu agama Islam yang juga merupakan salah satu alat cara berjihad. Jika peperangan itu bertujuan mengalahkan musuh-musuh Islam serta mengamankan jalan dakwah Islamiyah, maka menuntut ilmu dan mendalami ilmu-ilmu agama bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, mensejahterakan umat dan mengembangkan agama Islam agar disebarluaskan dan dipahami oleh segala lapisan masyarakat.



d. Korelasi Ayat dengan Ilmu Pengetahuan
Dalam ayat tersebut Allah SWT menjelaskan bahwa tidak perlu semua orang mukmin itu berangkat ke medan prang, bila peperangan itu cukup dilakukan oleh sebahagian orang. Pembagian tugas dalam masyarakat harus dilakukan, sebagian berangkat ke medan perang, bekerja di ladang, di pabrik, atau diberbagai perusahaan lainnya, dan sebahagian yang lain, menekuni ilmu serta mendalami ilmu-Ilmu agama Islam. Hal ini dimaksudkan agar setelah kelompok masyarakat yang tersebut terakhir itu selesai kembali ke masyarakat, mereka. dapat menyebarkan ilmu tersebut serta menjalankan dakwah Islamiyah dengan cara atau metode yang baik sehingga mencapai hasil yang lebih baik pula.
Karena ayat ini telah menetapkan bahwa fungsi ilmu adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, mensejahterakan umat dan mensyiarkan ajaran-ajaran agama Islam, maka tidak dapat dibenarkan bila ada orang Islam yang menuntut ilmu pengetahuan hanya untuk mengejar pangkat, mencari titel dan keuntungan pribadi semata. Orang-orang yang telah memiliki ilmu pengetahuan haruslah menjadi mercusuar dan suri tauladan bagi umatnya. Ia harus menyebarkan ilmunya dan selain itu, ia sendiri juga harus mengamalkannya agar menjadi contoh teladan bagi orang-orang di sekitarnya dalam ketaatan menjalankan peraturan dan ajaran-ajaran agama. Dengan demikian, dapat diambil suatu pengertian bahwa dalam bidang ilmu pengetahuan, setiap orang mukmin mempunyai tiga macam kewajiban, yaitu menuntut ilmu, mengamalkannya, dan mengajarkannya kepada orang lain.






2. Sura Al-Alaq : 1 – 5

a. Arti Kata
= bacalah
= menciptakan
= segumpal darah
= Yang Maha Pemurah
= mengajar
b. Terjemah
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhahmu Yang menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah,
3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pernurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam,
5. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

c. Penjelasan
Pada ayat pertama Allah memerintahkan kepada Nabi agar membaca dengan menyebut nama Tuhan yang menciptakan. Dalam hadist shahih riwayat Imam Bukhari dinyatakan bahwa SAW. datang ke gua Hira, yaitu gua yang terletak di puncak Jabal Nur, suatu bukit yang paling tinggi terletak di pinggir kota Mekkah, untuk berkhilwat. Sekembali Beliau pulang mengambil bekal dari rumah istrinya, Siti Khodijah, datanglah Jibril kepada beliau dan menyuruh membaca.
Mendengar perintah ini, Nabi menjawab, “Aku tidak bisa membaca”. Jibril merangkulnya sehingga Nabi merasa sesak nafas. Kemudian Jibril melepaskannya seraya berkata, “Bacalah”, Nabi menjawab, “Aku tidak bisa membaca”. Lalu Jibril merangkul kembali dan melepaskannya sambil berkata, “Bacalah”. Untuk ketiga kalinya dalam kondisi merasa payah Nabi menjawab, “Aku tidak bisa membaca” Kemudian Jibril membacakan ayat 1 sampai ayat 5 surat Al-Alaq yang artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhahmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pernurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Setelah kejadian itu, sambil gemetar dan ketakutan Nabi pulang. Sesampai di rumah, Nabi meminta kepada isteri beliau agar menyelimuti. Beliau berkata. “Selimutilah aku! Selimutilah aku”. Setelah diselimuti dan rasa gelisahnya hilang, Beliau menceritakan kejadian yang menimpa pada dirinya. Lalu Beliau menambahkan, aku sangat khawatir apa yang akan terjadi atas diriku. Mendengar keluhan Nabi seperti ini, Siti Khadijah berkata, “Tak usah gelisah dan khawatir seharusnya engkau gembira, demi Allah sekali-kali Tuhan tidak akan menyusahkanmu: Engkau telah banyak menyambung silatuhrahmi, berbicara benar, berbuat adil, membantu orang-orang yang tidak mampu, menghormati tamu dan meringankan kesulitan-kesulitan, orang-oraang yang menderita. Engkau adalah orang amat mulia.”
Beberapa waktu kemudian Siti Khadijah mengantarkan Nabi untuk menemui Waraqah bin Naufal (anak paman Khadijah). Waraqah adalah seorang pendeta agama Nasrani yang sudah lanjut usia dan buta. Ia banyak mengarang buku dalam bahasa Arab dan ibrani berdasarkan ajaran Injil.
Khadijah berkata kepada Waraqah “Wahai anak pamanku, dengarlah derita dan anak saudaramu ini.” Lalu Waraqah bertanya, “Apakah yang hendak engkau ketahui wahai anak saudaraku?” Lalu Nabi SAW menceritakan kepadanya kejadian yang beliau alami di gua Hira itu. Mendengar cerita itu Waraqah mengatakan bahwa yang datang menemuimu di gua Hira tersebut adalab Jibril yang juga pernah datang kepada Nabi Isa AS. Sekiranya saya ini adalah pemuda yang gagah berani dan saya masih hidup saat kaummu mengusirmu. “Sebelum Waraqah meneruskan pembicaraan Nabi hertanya, “Apakah mereka akan mengusirku?”. Ya hanya sedikit di antara mereka yang memahami dan mengikuti ajaran yang engkau bawa, kebanyakan mereka tidak mau mematuhi ajakanmu dan bahkan mereka memusuhi. Andaikan saya masih hidup pada waktu itu maka saya akan berusaha membantu dengan segala daya dan tenaga”. Tidak lama setelah peristiwa itu Waraqah pun meninggal dunia.
Berdasarkan hadits tersebut, lima ayat pertama surat Al Alaq ini adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang pertama kali diturunkan kepada Nabi sekaligus sebagai rahmat dan panggilan pertama kali yang dihadapkan kepada beliau.
Ayat-ayat lainnya diturunkan setelah tersiarnya berita kerasulan Nabi Muhammad S’AW. dan setelah Beliau mengajak orang-orang untuk mempercayai ajakan beliau. Pada mulanya ajakan beliau ini disampaikan kepada arang-orang Quraisy, tetapi hanya sebahagian kecil yang memahami dan mengikuti tersebut, sedang kebanyakan mereka menolak dan bahkan mengejek dan memusuhi Nabi.
Allah menyuruh Nabi agar membaca, sedang beliau tidak pandai membaca dan menulis, maka dengan kehendak dan kekuasanNya Nabi pun bisa mengikuti ucapan Jibril. Dan Allah akan menurunkan kepadanya suatu Kitab yang akan dijadikan pedoman dan petunjuk hidup serta memberi rahmat bagi alam semesta.
Pada ayat kedua Allah mengungkapkan tentang bagaimana cara menjadikan manusia; yaitu sebagai makhluk yang mulia dijadikan oleh Allah dan segumpul darah dan diberinya kesanggupan untuk menguasai segala sesuatu yang ada di bumi ini serta menundukkannya untuk keperluan hidupnya dengan ilmu yang diberikan oleh Allah kepadanya. Dan dia berkuasa menjadikan insan kamil, di antara manusia, seperti Nabi yang cerdas dan pandai sekalipun tanpa belajar.
Ayat ketiga Allah memerintahkan kembali kepada Nabi untuk membaca, karena bacaan tidak dapat melekat pada diri seseorang kecuali dengan mengulang-ulangi dan membiasakannya. Dalam surat Al-A’la : 6 Allah berfirman :

Artinya :
“Kami akan membacakan (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa”

Pada ayat keempat Allah menjelaskan bahwa dengan karuniaNya dan dengan perantara kalam terjadi proses belajar mengajar antar manusia. Kalam sebagai alat terjadinya proses belajar mengajar manusia hubungan dan komunikasi antar manusia, sehingga pengetahuan seseorang dapat ditransfer kepada orang lain. Hasil kalam yang berupa tulisan dan data bisa dikembangkan lagi menjadi berbagai bentuk informasi kongkrit, sehingga tugas manusia untuk memakmurkan dunia dalam upaya memenuhi kebutuhan hidupnya semakin dapat terpenuhi. Bila kalam sebagai benda padat yang tidak bergerak dapat dijadikan alat informasi dan komunikasi, maka apakah sulitnya bagi Allah menjadikan Nabi-Nya sebagai manusia pilihan, sekalipun tanpa belajar mampu membaca, mengajar dan menjadi pimpinan bagi seluruh umat manusia.
Allah menyatakan bahwa Dia menjadikan manusia dan “Alaq” lalu diajari berkomunikasi dengan perantara kalam
Sedangkan pada ayat kelima Allah menambahkan keterangan tentang limpahan karunia-Nya yang tidak terhingga kepada manusia, bahwa Allah menjadikan Nabi-Nya pandai membaca. Dia-lah Tuhan yang mengajar manusia bermacam-macam ilmu pengetahuan yang bermanfaat baginya yang menjadikan manusia lebih utama daripada makhluk lainnya, sekalipun pada awalnya manusia tidak mengetahui apa-apa. Dengan demikian. menjadi tidak aneh bila Allah menjadikan Nabi-Nya pandai membaca dan mengetahui bermacam-macam ilmu pengetahuan sekalipun tanpa proses belajar terlebih dahulu.

d. Korelasi Ayat dengan Ilmu Pengetahuan
Dengan ayat-ayat tersebut di atas, terbuktilah bahwa dengan perantaraan kalam manusia mampu membaca, menulis dan berilmu pengetahuan yang kemudian dapat meningkatkan harkat dan martabat manusia. Dengan kalam pula ilmu pengetahuan dapat disebarluaskan, penelitian dapat dikaji, ajaran agama dapat difahami dengan baik, dan seni dapat diciptakan serta sejarah dapat terpelihara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar